Pengertian Hyperemesis gravidarum
Hyperemesis gravidarum (HG
) merupakan keadaan mual dan muntah
dalam tingkat yang berat saat kehamilan dan sulit untuk dikendalikan. Mual dan
muntah biasa terjadi pada kehamilan minggu ke-9 sampai ke-10, dan hal tersebut
akan bertambah parah pada minggu ke-11 sampai ke-13 dan akan berakhir pada
minggu ke-12 samapai ke-14 (Kevin Gunawan, et al, 2011). Hyperemesis
gravidarum sangat sulit diatasi dan memiliki
beraneka dampak bagi kesehatan wanita, hal ini meliputi kondisi homeostasis,
elektrolit tubuh, fungsi ginjal dan bahkan keselamatan janin (Lindsey J.
Wegrzyniak, DO, John T. Repke, MD, & Serdar H. Ural, MD, 2012).
Penyebab Hyperemesis
gravidarum
Penyebab mual dan muntah
pada kehamilan belum diketahui secara pasti dan banyak faktor penyebab
walaupun hal ini berkaitan dengan
perubahan hormone. Sebelum menegakkan diagnosa , sangat penting untuk
mengetahui penyebab mual muntah pada wanita hamil (Tricia Taylor, 2014).
Patofisiologi HG dapat disebabkan karena peningkatan HCG dan hormone
progesteron. Peningkatan kadar hormon progesterone menyebabkan mual dan muntah
denga cara menghambat motilitas lambung dan irama kontraksi otot polos lambung.
Penurunan motilitas ini menyebabkan organ pencernaan menjadi penuh. Ketika ibu hamil mulai makan karena lapar
yang mengikuti irama sirkadian, makanan tersebut cenderung akan dimuntahkan
(Kevin Gunawan, et al, 2011).
Penata
laksanaan HG dengan pengaturan
diet berupa pembatasan jumlah makanan dan cairan sehingga dapat membantu
mencegah kasus ringan mual dan muntah. Makanan yang dikonsumsi harus banyak
mengandung karbohidrat dibandingkan dengan lemak ataupun asam. Sangat
dianjurkan konsumsi terhadap makanan ringan termasuk kacang-kacangan, produk
susu maupun biji-bijian (Lindsey J. Wegrzyniak, et al, 2012). Minuman
elektrolit dan suplemen nutrisi peroral disarankan sebagai tambahan untuk
memastikan terjaganya keseimbangan elektrolit dan pemenuhan kebutuhan kalori.
Menu makanan yang banyak mengandung protein juga memiliki efek positif karena
bersifat eupeptic dan efektif meredakan mual. Manajemen stres juga dapat
berperan dalam menurunkan gejala mual (Kevin Gunawan, et al, 2011).
Terapi dengan akar jahe (Zingiber officinale Roscoe)
dapat diterapkan. Hal ini terbukti mampu mengurangi mual dan muntah dalam kehamilan. Dalam
penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jahe lebih efektif daripada plasebo dan
efektivitasnya sama dengan vitamin B6. Efek samping berupa refluks
gastroesofageal dilaporkan pada beberapa penelitian, tetapi tidak ditemukan
efek samping signifikan terhadap keluaran kehamilan (Kevin Gunawan, et al, 2011).
Akupresur merupakan teknik pengobatan komplementer
yang berkaitan erat dengan akupuntur yang terdiri atas titik-titik tekanan tertentu dalam tubuh,
dimana tekanan diterapkan oleh jari, tangan, siku, atau dengan rangsangan
listrik. Pelaksanaan akupresur dilakukan pada pericardium 6 (PC6) yang
merupakan titik 5 cm proksimal lipatan pergelangan tangan disisi palmaris
lengan bawah. Menurut pengobatan cina
PC6 dianggap sebagai titik kunci dalam mengurangi gejala mual dan muntah. Walaupun dalam beberapa
penelitian dikatakan bahwa Akupresur kurang memberikan hasil yang maksimal
namun cara ini aman, murah dan non inofasif untuk membantu mengurangi mual dan
muntah (Neda Ebrahimi,
Caroline Maltepe, & Adrienne Einarson, 2010).
Caroline Maltepe, & Adrienne Einarson, 2010).
Terapi farmakologi dapat diberikan jika dibutuhkan, seperti piridoksin, doxylamine, prometazin, dan meto-klopramin dengan memperhatikan kontraindikasi dan efek sampingnya. Pemberian obat secara intravena dipertimbangkan jika toleransi oral pasien buruk. Obat-obatan yang digunakan antara lain adalah vitamin B6 (piridoksin) antihistamin dan agen-agen prokinetik. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah 12,5 mg doxylamine per oral setiap 8 jam sebagai farmakoterapi lini pertama yang aman dan efektif (Kevin Gunawan, et al, 2011).
Dapat disimpulkan bahwa
mual dan muntah merupakan suatu hal yang umum dalam kehamilan. Terdapat
beberapa perawatan yang dapat digunakan. Perubahan pola makan dan gaya hidup
menjadi prioritas tindakan pertama yang dilakukan. Namun apabila pengobatan
nonfarmakologis tidak mampu mengatasi HG maka pengobatan farmakologis harus
dilakukan agar tidak merugikan ibu maupun janinnya. Resep yang diberikan ahli
klinis diyakini bahwa pengobatan dini
dapat meningkatkan kualitas hidup bagi ibu hamil dan keluarga mereka.
REFERENSI
Wegrzyniak, L.,J. Repke, J.,T., & Ural,
S.,H. (2012). Treatment of Hyperemesis Gravidarum. Reviews in Obstetrics &
Gynecology. 5 (2), 78-84.
Gunawan, K., Manengkei, P.,S.,K., Ocviyanti,
D.( 2011). Diagnosis and Treatment of hyperemesis gravidarum. J indo med
assoc. 61 (11), 458-464.
Taylor, T. (2014).
Treatment of nausea and vomiting in pregnancy. Australian prescriber. 37
(2), 42-45.
Ebrahimi, N., Maltepe,
c.,Einarson, A.(2010). Optimal management of nausea and vomiting of pregnancy.
International Journal of Women’s Health. 2(-), 241-248.
Jarvis, S., & Piercy,
N.,C.( 2011). Management of nausea and vomiting in pregnancy. Clinical review.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar