Senin, 09 November 2015

Penata Laksanaan Hyperemesis Gravidarum (penugasan TI)




Pengertian Hyperemesis gravidarum
Hyperemesis gravidarum (HG ) merupakan  keadaan mual dan muntah dalam tingkat yang berat saat kehamilan dan sulit untuk dikendalikan. Mual dan muntah biasa terjadi pada kehamilan minggu ke-9 sampai ke-10, dan hal tersebut akan bertambah parah pada minggu ke-11 sampai ke-13 dan akan berakhir pada minggu ke-12 samapai ke-14 (Kevin Gunawan, et al, 2011). Hyperemesis gravidarum sangat sulit diatasi dan memiliki beraneka dampak bagi kesehatan wanita, hal ini meliputi kondisi homeostasis, elektrolit tubuh, fungsi ginjal dan bahkan keselamatan janin (Lindsey J. Wegrzyniak, DO, John T. Repke, MD, & Serdar H. Ural, MD, 2012).  
Penyebab Hyperemesis gravidarum
Penyebab mual dan muntah pada kehamilan belum diketahui secara pasti dan banyak faktor penyebab walaupun  hal ini berkaitan dengan perubahan hormone. Sebelum menegakkan diagnosa , sangat penting untuk mengetahui penyebab mual muntah pada wanita hamil (Tricia Taylor, 2014). Patofisiologi HG dapat disebabkan karena peningkatan HCG dan hormone progesteron. Peningkatan kadar hormon progesterone menyebabkan mual dan muntah denga cara menghambat motilitas lambung dan irama kontraksi otot polos lambung. Penurunan motilitas ini menyebabkan organ pencernaan menjadi penuh.  Ketika ibu hamil mulai makan karena lapar yang mengikuti irama sirkadian, makanan tersebut cenderung akan dimuntahkan (Kevin Gunawan, et al, 2011).

Penatalaksanaan Hyperemesis gravidarum 

  Penata laksanaan HG  dengan pengaturan diet berupa pembatasan jumlah makanan dan cairan sehingga dapat membantu mencegah kasus ringan mual dan muntah. Makanan yang dikonsumsi harus banyak mengandung karbohidrat dibandingkan dengan lemak ataupun asam. Sangat dianjurkan konsumsi terhadap makanan ringan termasuk kacang-kacangan, produk susu maupun biji-bijian (Lindsey J. Wegrzyniak, et al, 2012). Minuman elektrolit dan suplemen nutrisi peroral disarankan sebagai tambahan untuk memastikan terjaganya keseimbangan elektrolit dan pemenuhan kebutuhan kalori. Menu makanan yang banyak mengandung protein juga memiliki efek positif karena bersifat eupeptic dan efektif meredakan mual. Manajemen stres juga dapat berperan dalam menurunkan gejala mual (Kevin Gunawan, et al, 2011).

               Terapi dengan akar jahe (Zingiber officinale Roscoe) dapat diterapkan. Hal ini terbukti mampu mengurangi   mual dan muntah dalam kehamilan. Dalam penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jahe lebih efektif daripada plasebo dan efektivitasnya sama dengan vitamin B6. Efek samping berupa refluks gastroesofageal dilaporkan pada beberapa penelitian, tetapi tidak ditemukan efek samping signifikan terhadap keluaran kehamilan (Kevin Gunawan, et al, 2011). 

               Akupresur merupakan teknik pengobatan komplementer yang berkaitan erat dengan akupuntur yang terdiri atas  titik-titik tekanan tertentu dalam tubuh, dimana tekanan diterapkan oleh jari, tangan, siku, atau dengan rangsangan listrik. Pelaksanaan akupresur dilakukan pada pericardium 6 (PC6) yang merupakan titik 5 cm proksimal lipatan pergelangan tangan disisi palmaris lengan bawah.  Menurut pengobatan cina PC6 dianggap sebagai titik kunci dalam mengurangi gejala mual  dan muntah. Walaupun dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa Akupresur kurang memberikan hasil yang maksimal namun cara ini aman, murah dan non inofasif untuk membantu mengurangi mual dan muntah (Neda Ebrahimi,
Caroline Maltepe, & Adrienne Einarson, 2010).

Terapi farmakologi dapat diberikan jika dibutuhkan, seperti piridoksin, doxylamine, prometazin, dan meto-klopramin dengan memperhatikan kontraindikasi dan efek sampingnya. Pemberian obat secara intravena dipertimbangkan jika toleransi oral pasien buruk. Obat-obatan yang digunakan antara lain adalah vitamin B6 (piridoksin) antihistamin dan agen-agen prokinetik. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah 12,5 mg doxylamine per oral setiap 8 jam sebagai farmakoterapi lini pertama yang aman dan efektif (Kevin Gunawan, et al, 2011). 
Dapat disimpulkan bahwa mual dan muntah merupakan suatu hal yang umum dalam kehamilan. Terdapat beberapa perawatan yang dapat digunakan. Perubahan pola makan dan gaya hidup menjadi prioritas tindakan pertama yang dilakukan. Namun apabila pengobatan nonfarmakologis tidak mampu mengatasi HG maka pengobatan farmakologis harus dilakukan agar tidak merugikan ibu maupun janinnya. Resep yang diberikan ahli klinis  diyakini bahwa pengobatan dini dapat meningkatkan kualitas hidup bagi ibu hamil dan keluarga mereka.
REFERENSI
Wegrzyniak, L.,J. Repke, J.,T., & Ural, S.,H. (2012). Treatment of Hyperemesis Gravidarum. Reviews in Obstetrics & Gynecology. 5 (2), 78-84.
Gunawan, K., Manengkei, P.,S.,K., Ocviyanti, D.( 2011). Diagnosis and Treatment of hyperemesis gravidarum. J indo med assoc. 61 (11), 458-464.
Taylor, T. (2014). Treatment of nausea and vomiting in pregnancy. Australian prescriber. 37 (2), 42-45.
Ebrahimi, N., Maltepe, c.,Einarson, A.(2010). Optimal management of nausea and vomiting of pregnancy. International Journal of Women’s Health. 2(-), 241-248.
Jarvis, S., & Piercy, N.,C.( 2011). Management of nausea and vomiting in pregnancy. Clinical review.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar